Friday , 18 August 2017
Latest Blog

Memberi Tumpangan Kendaraan Kepada Wanita Non Muhrim ?

Seringkali saya mengalami hal seperti yang saya kutipkan diatas “Memberi Tumpangan Kendaraan Kepada Wanita Non Muhrim ?” Nah sebenarnya apa yang mau coba saya publish adalah mengenai bagaimana sih pandangan menurut syariat islam tentang hal tersebut. Sedangkan saya sendiri punya 2 pandangan yang saya anggap dua-duanya benar.

Pandangan Pertama | Haram

Pandangan ini sesuai sabda Nabi Muhammad SAW : “Takutlah bersunyi-sunyi dengan seorang perempuan, Demi Dzat yang jiwaku berada dalam kekuasaanNya, tidak akan bersunyi-sunyi (berduaan) seorang lelaki dengan seorang perempuan kecuali akan masuk syaithan diantara keduanya. Sesungguhnya seorang lelaki berhimpitan dengan babi yang penuh debu yang hitam dan bau lebih baik baginya daripada pundaknya berhimpit dengan seorang perempuan yang tidak halal baginya”.
Jadi kesimpulan dalam pandangan yang pertama sebagai muslim kita Haram berduaan dengan wanita Non Muhrim apapun alasannya.

Pandangan Kedua | Boleh

Pandangan ini sesuai Fiman Allah SWT : “Dan
tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan taqwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran”

QS : Al-Maidah Ayat 2.
Nah dari sini pandangan ini ada kesimpulan yang bisa saya utarakan yakni, selama hal tersebut bukan suatu Dosa / Pelanggaran maka kita diwajibkan untuk saling tolong-menolong. Nah pertanyaan-nya : “Dimana batasan kita tolong-menolong dalam hal memberikan tumpangan kendaraan kepada Non Muhrim ?” dimana ada beberapa kondisi yang saya alami :

  1. Seorang wanita minta ditumpangi kendaraan saat pulang / breangkat kerja, dalam hal ini saya maksudkan adalah rekan kerja / teman. Karena tujuan pulang / berangkat satu arah dengan kita. Bagaimana cara kita menolaknya ? Atau bolehkah kita menolongnya ?
  2. Ada seorang wanita yang kita kenal sedang menunggu kendaraan di jalan. Dan kita tahu sendiri kondisi jalan di Jakarta macet dan penuh sesak. Nah kalau arah tujuannya sama bagaimana, bolehkah kita memberi tumpangan ?

Sebelumnya saya ucapkan Jazakumulloh Khoir atas siapa saja yang mau memberi komentar. Karena hal ini benar-benar mengganjal fikiran saya. 🙂

About Fahrudin

Seorang suami dan ayah dari 2 anak. Pecandu dunia Teknologi Informasi, bisa betah berjam-jam kalau sudah didepan Laptop+Internet. Dan perindu Syurga-Nya :)

25 comments

  1. Pergaulan antara laki2 dan perempuan dalam islam pada dasarnya adalah terpisah, akan tetapi hal-hal yang hukum syara’ yang memperbolehkan mereka untuk misalnya dalam perdangangan, pendidikan, dll. mengenai boncengan antara selain muhrimnya itu tidak diperbolehkan syara’. Adapun dalil yang melarang hal selain dalil yang anda sebutkan diatas antara lain:

    Firman Allah SWT yang artinya, “Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk.” (Al-Isra: 32).

    “Katakanlah kepada orang-orang mukmin laki-laki: ‘Hendaklah mereka itu menundukkan sebahagian pandangannya dan menjaga kemaluannya ….’ Dan katakanlah kepada orang-orang mukmin perempuan: ‘Hendaknya mereka itu menundukkan sebahagian pandangannya dan menjaga kemaluannya …’.”
    (An-Nur: 30–31).

    Kemudian mengenai pertanyaan saudara ketika ada teman kerja yang bukan muhrim meminta tolong untuk dibonceng, hal itu bukan merupakan sebuah sebab/illat yang memperbolehkan anda untuk memboncengnya. untuk itu anda dapat menjelaskan kepada teman kantor anda mengenai hukum Islam mengenai boncengan antara nonmuhrim.

  2. Hukum seperti ini tetap berlaku kapan dan dimanapun berada, dan tidak ada pengecualian, kecuali bila ada hal yang darurat atau ada hajat.
    Darurat adalah satu kondisi dimana seseorang dihadapkan pada satu pilihan yang jika tidak dia penuhi pilihan itu, maka yang terjadi adalah al-halak (kebinasaan, kematian, kehancuran), baik al-halak itu terkait dengan al-din (agama), al-nafs (jiwa), al-aql (akal), al-nasab (nasab) dan al-mal (harta) seseorang. Sebagian ulama menambahkan satu hal lagi, yaitu al-irdh (harga diri dan kehormatan).

    Kembali kepada pertanyaan anda, apabila anda tidak membonceng teman anda itu tidak akan menyebabkan al halak, karena teman anda bisa saja pulang boncengan dengan teman perempuan sekantor atau naik angkot dll. Memang untuk menjelaskan kepada teman anda itu memang sulit tapi hal itu anda lakukan untuk menyelamatkan dan menjaga kehormatannya. Sebelumnya af1, wassamu ‘alaikum…

  3. Nanang Alawi: boleh…
    Nanang Alawi: kalo satusnya udah jadi istri…
    Nanang Alawi: boleh juga kalo kita di barengi ama ema’ kita
    Fachrudin: tapi boss … misal nih …
    Fachrudin: kalo si boss ngalamain hal serupa bagimana ??
    Fachrudin: Apa jawaan paling bijak boss untuk tidak memeberikan tumpangan …
    Nanang Alawi: silahkan….mau jadi istri saya?…itu jawaban saya. hihiihihiihi
    Nanang Alawi: tentunya sesuai kriteria….
    Fachrudin: iya nih boss … justru yg saya pgn ungkapkan … dimana batasan kriteria itu …
    Nanang Alawi: maksudnya tumpangan naek motor yah???
    Fachrudin: betull … kan saya belum punya mobil
    Fachrudin: Nah terkadang ada temen kantor … yg minta nebeng … apakah kita harus bohong …
    Nanang Alawi: hehehhehhehehehhe
    Fachrudin: hayo dijawab yaaa
    Nanang Alawi: tergantung niatnya kalo boncengan ama nenek2 sih gapapa
    Nanang Alawi: tp kalo membangkitkan birahi itu kali yang ga boleh…
    Fachrudin: misal neh boss …
    Fachrudin: kalo yg kita boncengin … masih muda gimana, walaupun toh nggak ada maksud lain kecuali menolong …
    Fachrudin: Truss Cantik lagi …
    Nanang Alawi: menolong karena kesenengan wekekekkekeke
    Fachrudin: ih serius boss …
    Nanang Alawi: kasusnya belum jelas atuh…
    Nanang Alawi: coba ceritakan pengalamannya…
    Fachrudin: Aduh pengalaman mah sering boss … baik kuliah maupun kerja …
    Fachrudin: Saya ada temen kuliah … kebetulan kalo pulang itu 1 arah … dan setiap pulang dia minta tumpangan … saya sendiri merasa risih karena khawatir fitnah … lebih lebih dosanya …
    Fachrudin: Eh nggak setiap sih … cuman seringnya …
    Nanang Alawi: udin seneng ga?
    Nanang Alawi: wekekekekek
    Nanang Alawi: kalo udin juga seneng ga boleh….
    Fachrudin: ya nggak lah …
    Fachrudin: Ayo kasih solusi dong …
    Nanang Alawi: nggak nolak.. hihihihi
    BUZZ!!!
    BUZZ!!!
    Fachrudin: Ah si Boss mah bercanda … orang lagi bingung jg …
    Nanang Alawi: hehehh
    Nanang Alawi: ngga apa2 atuh bos kalo gada ser mah…
    Nanang Alawi: kecuali tanya dulu si ceweknya udah ada yang punya belum…
    Nanang Alawi: kalo udah ada yang punya bilang aja kalo boncengan terus tar ada yang marah…
    Fachrudin: Tuh dia … cowoknya juga temen saya … jadi percaya aja..
    Nanang Alawi: ya gapa2 atuh kalo begitu mah…
    Fachrudin: Yakin nih boss … nanggung dosa bareng2 lho …
    Nanang Alawi: ngga lah…
    Nanang Alawi: kan gaada seerrrrr…
    Nanang Alawi: kecuali kalo si boss ada serrrrr
    Nanang Alawi: itu yang dosa…
    Nanang Alawi: asal jangan WTJSK
    Fachrudin: Witing Tresno Jalaran Soko Kulino
    Fachrudin: oncreng … Thx Boss

  4. Wah untuk Sdr. Withgogot Syukron atas komentarnya, saya jadi sedikit jelas nih …

  5. Assalamu’alaiku, salam kenal juga. Memang mengenai membonceng perempuan non muhrim ini mungkin sangat mengganggu bagi kita yang isyaAllah masih diberikan sedikita cahaya islam, sekdar berbagi pengalaman.
    Dulu sewaktu kuliah dan menempuh matakuliah KKN, dan kebagian di daerah yang terpecil, dan masalahnya sedikit sekali kendaraan umum. Nah waktu itu ana selalu dimintai tolong sama teman2 perempuan se-KKn untuk memboncengnya entah ke kota, pasar untuk beli persediaan makanan, atau sekedar keliling kampung.
    Pada waktu awal ketika ana menolak permintaan mereka memang sangat sulit karena mereka juga tidak mengerti syariat pergaulan antara laki2 dan perempuan. Tetapi lama-kelamaan mereka akan mengerti.
    Jadi seorang muslim yang taat pada syariat memang butuh perjuangan yach…so keep istiqomah 😀

  6. Wah pertanyaannya serius nih, ane jadi atut buat komentar. Gimana sekarang kalo setiap ane berangkat or pulang kerja ane numpang aja ama ente, ga keberatan khan, ane khan cowok tulen.. xixixi…
    [Just kidding]

    Btw Keep On The Way !

  7. To Aril

    Boleh aja asal Bensin Ane Tiap Hari Diisin OK 🙂

  8. istri ente tau gak om kalo ente ngeboncengin tuh cewe..hehehe..

    ane kadang ketemu dijalan pas sudah deket kantor kadang ane tawarin biar bareng….kalo gitu salah gak ya?

    oke om..ini sebatas menurut ane yaaaa.. kalo salah ya mohon dimaafkan..

    Menolong itu sangat dianjurkan dalam Islam, nah..terlepas dia muhrim atau tidak ketika niat menolong sudah ada di Islam kita sudah dapet Pahala, apalagi kalo kita tolong beneran.

    kalo boleh tidaknya kembali ke masing2 diri…coz ane gak berhak menjudge…

  9. To : Akhi WithGogot (Wiwit)

    Syukron atas saran-nya

  10. >>>Darurat adalah satu kondisi dimana seseorang dihadapkan pada satu pilihan yang jika tidak dia penuhi pilihan itu, maka yang terjadi adalah al-halak (kebinasaan, kematian, kehancuran), baik al-halak itu terkait dengan al-din (agama), al-nafs (jiwa), al-aql (akal), al-nasab (nasab) dan al-mal (harta) seseorang. Sebagian ulama menambahkan satu hal lagi, yaitu al-irdh (harga diri dan kehormatan).<<<

    Berat bangets nich, kalau kita tilik ke berbagai angel maka alasan kita memberi tumpangan atau menumpang di kendaraan lebih lebih banyak mudhorotnya.

    Duh ane tu sering naik ojek klo sikon tertentu (waktu blum nikah), walau sebisa mungkin mengambil posisi aman.Alwasil ba’da nikah abangku melarang untuk naik ojek.

    hmm…klo ane sih akan berusaha untuk menjaga suami atau keluarga agar terhindar dari hal2 diatas…isya Allah.

  11. Ane sarankan cari ojek wanita,dan wanita yg gak punya kerja,jd ojek khusus wanita aja,daripada kerja di diskotik

  12. aduh… ku juga pusing
    biasanya kalo ada dalilnya sih g boleh…
    tapi keaddaan kadang memaksa kita ya ga?
    emmmmmmm…..
    mungkin kita tunjukin diri dulu kali ya….
    coz dulu an jg gt tapi stelah ane nunjukin diri g mau boncengan
    ga ada tuch yang minta mbonceng lagi
    they look what we’ve done and they will think and then they know what to do
    ok?
    moga berguna yach, kita harus berusaha dulu sebelum menyerah pada keadaan
    saling mendoakan aja ya biar kita kuat!!!!!!!

  13. Setuju … jazakallah atas comment’a

  14. Assalamualaikum..
    gmn kalo yang kendaraan yg di tumpangi mobil?
    klo mobil jarak tempat duduknya jauh..

  15. Wa’alaikum salam … menurut saya sama aja kali yaa … mau naik motor kek … mobil kek bakan pesawat kalau cuman berdua. Laki-laki dan perempuan yang bukan muhrimnya … sama saja tidak diperbolehkan dalam islam.

  16. apakah salah bila seorang istri melarang suaminya utk memboncengi istri orang?suamiku suka memboncengi teman wanita sekantornya,dgn alasan searah.aku percaya dgn suamiku,ttp untk menjaga hal yg tdk diinginkan…bagaimana utk melarangnya??thx

  17. saya juga butuh jawabanya juga,…yang ini bagaimana ,…apakah salah bila seorang istri melarang suaminya utk memboncengi istri orang?suamiku suka memboncengi teman wanita sekantornya,dgn alasan searah.aku percaya dgn suamiku,ttp untk menjaga hal yg tdk diinginkan…bagaimana utk melarangnya??thx

  18. sama , saya juga lagi googling tentang hal ini.. masalahnya suami itu org yg care d tmpt kerja nya termasuk ama wanita.. karna mayoritas di sana yang kerja adalah wanita .. saya pesan ama suami saya kalo bisa jgn bonceng cewe, dia nurut sihh.. tpi di ledekin ama temen” nya . sbenernya saya ga tega. tp gmna lg

  19. Menurut saya tidaklah salah selama niatnya menghindari fitnah. Gunakanlah cara yang baik dan santun, disertakan juga dalil yang melarang hal tersebut.

  20. Doakan saja agar suami dijaga oleh Allah 🙂

  21. Assalamu’alaikum, menurut saya, tidak salah istri melarang suami membonceng wanita lain bukankah Allah juga menyukai kita saling ingat mengingatkan dalam kebaikan?

    Jika kita membuarkan suami kita berbonceng boncengan dengan wanita lain, bukan hanya resiko tumbul fitnah yang sangat besar,m tapi kita juga sekaan membiarkan fitnah itu berjalan lancar, kita juga memberi peluang suami kita melakukan dosa, dan memberi jalan wanita itu berbuat dosa dengan berboncengan dengan suami kita.

    Sekedar Berbagi pengalaman, saya pernah melarang suami saya berboncengan dengan tean sekantornya, ketika itu dia menginfokan teman sekantornya yang masih gadis numpang, karena arah pulang yang sama. ketika saya kemukakan akan lebnih banyak mudharatnya dari apda manfaatnya, lebih baik dia naik angkitan umum, insyalaah lebih terhormat, ketika itu suami nurut dan mereka tidak pernah berboncengan lagi.

    Beberapa bulan kemudia, temen perempuan suami saya minta numpang di gonceng motor, kali ini jaraknya dekat hanya dari kan tor ke stasiuan, dr Thamrin ke stasiun Tanah Banag, Awalnya niatnya tulus hanya ingin menolong, dia mengindahkan larangan saya, akrena menurutnya hanya dekat dan hanya pas pulang. kegiatan ini berlangsung terus menerus setiap hari, hingga akhirnya lama kelamaan tidak sadar tumbuh rasa yang lain, akhirnya mereka sering chatting dan jadi sangat akrab, goncengan tidak hanya pulang dari kantor ke stasiun, tapi pergi pun wanita itu minta di anterin, dia menunggu suami saya di pertengahan jalan, dari rumah dia naik mobil bareng suaminya, pas di simpang belokan dia turun (karena arah kantor berlawanan), dan menunggu suami saya. dari kebiasaan itu akhirnya mereka sering janjian makan siang bareng, kadang peremouan minta diantar belanja ke mall, minta di antar ke bank, minta diantar ke kantor pos, atau pas istirahat siang minta di temanin ke toko buku, mereka jadi tidak terknadli, sangatr sulit menahan hawa nafsu

    Ketika ketahuam saya dan anak anak, suami saya alhamdulilah jadi sadar.. suami saya merasa sangat menyesal, beberpa kali percobaan bunuh diri, karena merasa gagal menahan diri dan gagal menajdi suami yang baik… penyesalan memang selalu datang belakangan…

    lebih baik kita mencegah, selalu takut kepada Allah, isny lebih mulia bagi wanita naik kendaraan umum bersama sama, dari pada berduaan dengan laki laki yang bukan Muhrim, karena memang setan selalu siaga menggoda kita

    Astaghfirullah

    Wallahu’alam

  22. @ummi mutiara

    Wa’alaykumsalam Wr Wb,

    Subhanallah pemaparan yang menarik berdasarkan kisah nyata.
    Semoga kita terjaga dari hal tersebut.

  23. Gusti ayu arbella

    Tpi bagaimana bila suami berboncengan bdua dg alsan pkerjaan..misalx dkarenakan untuk menemui customer jdi mereka lbih efisien brgkt brboncengan drpda brgkt dg mmbwa kndraan sndiri2..apa sama saja hukumx?

  24. achmad gozali

    Bagaimana saya ini driver jemputan karyawan,kbetulan saya yg bawa krywti alias wanita soalnya klo mlm krywn wanita dan pria harus di pisah mohon pwncerahan.Thankx

  25. Insha Allah itu itu dibolehkan, artikel ini untuk kasus berboncengan dengan motor (berdua-duaan dengan wanita) wallahu a’lam

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*


*

BIGTheme.net • Free Website Templates - Downlaod Full Themes